Minggu

AYAM SAYUR

Image: tikatizta.blogspot.com

Pak Toyo memejamkan mata penuh penghayatan, menikmati seruput pertama kopi hitam pesanannya. Sementara Pak Warsidi yang menjadi teman bercakap-cakapnya siang itu tengah fokus menatap layar ponsel, membalas pesan dari anak sulungnya yang sudah dua tahun bekerja di luar negeri.
“Zaman edan, semua jadi kebolak-balik,” celetuk Pak Toyo menggeleng-gelengkan kepala saat melihat seorang pria muda melintas sambil menggendong anaknya yang masih bayi.
“Kebolak-balik bagaimana?” tanya Pak Warsidi sembari meletakkan ponsel di atas meja.

Kamis

SEKAR MAYANG

Tekad Aldo sudah bulat berangkat ke Bandung meski tidak mendapat izin dari Ibunya. Bukan hanya sekadar meraih impian menjadi Wartawan yang memotivasi Aldo, tetapi ada hal lain yang lebih besar di balik keputusan penting itu.

"Pilihan hati tidak pernah salah, tidak akan pernah salah. Karena hati yang bersih melihat dunia dengan kacamata kebenaran ... segala yang sejati hanya akan tunduk pada kebenaran."

- Aldo-
SEKAR MAYANG adalah Novel terbaru saya. Novel Romance ini akan saya publish bertahap di Wattpad. Sila kunjungi dan follow akun Wattpad saya dengan ID: TM_rockstars untuk membaca Novel Sekar Mayang dan karya tulis saya yang lain.
Terima Kasih.



Sabtu

B.O.D.O


Siapa yang tidak senang disukai dua cowok tampan sekaligus? Tidak aku, bukan juga kalian, pasti senang banget. Tidak hanya tampan, dua-duanya anak orang kaya pula. Kesannya aku matre ya? Nggak apa dianggap matre, asal jangan matre benaran, he-he. Tidak hanya anak orang kaya, dua-duanya juga idola para cewek di sekolah. Wajar dong aku bangga? Walau sebenarnya itu juga bukan prestasi yang pantas dibanggakan, he-he.

Rabu

NYELEKIT

Image Source: ms.pngtree.com

Seorang lelaki perlente dengan setelan kemeja yang dibalut jas rapi melangkah keluar kantor. Tangan kanannya menggenggam telepon seluler canggih yang ia tempelkan pada kuping kanan. Gerak kakinya terburu menapak trotoar depan gedung megah tempat ia berkantor. Lelaki perlente tertegun ketika melintas di hadapan seorang pengemis yang menghiba minta belas kasihan.


Selasa

Ayah

Image Google
Laki-laki paruh baya dengan kemeja lusuh duduk mengamati sosok mungil yang tengah fokus dengan mangkuk baso di hadapannya. Bocah perempuan usia lima tahun itu tampak lahap. Laki-laki paruh baya melepas topi kumal warna krem, kemudian meletakkannya di atas  meja, ia tersenyum tulus melihat keceriaan anak perempuannya yang tengah menikmati semangkuk baso. Lembar nasib terlukis pada gurat wajah menua, wajah yang sudah kenyang merancah hitam putih kehidupan.
“Ayah mau?” ucap bocah perempuan mengangkat sendok berisi baso kecil.
“Ayah sudah kenyang.”

Kena Teepu


Apes, itulah yang saya alami ketika naik Angkot kemarin sore. Dengan semena-mena tanpa perasaan, seorang perempuan paruh baya menuduh saya mengambil dompet miliknya. Dongkol, emosi, campur aduk jadi satu. Dan peristiwa kemarin itu benar-benar  akan menjadi pengalaman buruk seumur hidup saya.
Angkot sesak penumpang, duduk desak-desakan, sore menjelang magrib bertepatan pas jam pulang kerja, jam pulang sekolah juga. Perempuan paruh baya itu turun duluan dari angkot, ketika hendak membayar ongkos, ia tampak panik mengubek-ubek isi tasnya. Jreeng! Sorot matanya tertuju ke saya, dengan jari telunjuk tangan kirinya dia menunjuk tajam dan menuduh saya telah mengambil dompetnya.  Sumpah deh, dongkol kuadrat, asem benar tu perempuan.

Kamis

KELANGAN


Sedari pagi Puro uring-uringan, gairah hidupnya tampak memudar. Padahal sehari yang lalu ia masih begitu bersemangat, terlebih saat main media sosial menggunakan telepon pintar baru miliknya. Update status, komen sana, like sini, kadang tertawa sendiri menatap layar mungil yang ada dalam genggamannya. Namun hari  ini semua berbeda, Tagur pun merasa heran melihat perubahan sikap Puro.
“Kamu kenapa sih, dari tadi aku lihat murung mulu?” tanya Tagur.
“Aku lagi sedih, tolong jangan ganggu, biarkan aku sendiri.”
“Yahaaa, drama! Makane jangan banyak nonton sinetron!”

Selasa

VISIONER

Image Google

Malam itu saya dan istri bertengkar hebat karena persoalan tidak penting atau bisa juga dibilang belum penting untuk dibahas. Ketika menonton siaran bola liga Inggris di televisi, saya menyeletuk, semoga kelak Ujo, anak kami yang baru berumur dua bulan menjadi penerus Wayne Rooney di Manchester United. Mendengar celetukan saya, istri langsung menyemprot.

“Ngayal jangan ketinggian, Pak! Lagian, ngarahin anak kok jadi pemain bola. Cita-cita anak tu mbok yang berkelas, jadi Dokter kek! Jadi PNS kek!”

Sial Majal

Image: Detik.com

“Lepas jaket, serahkan motor lu!”
“Sila ambil motor saya, tapi jaket jangan … saya mohon!”
“Banyak bacot lu! Turuuun!”
Hembusan angin malam tak cukup mampu meredam ketegangan. Sebuah dorongan menghempas tubuh kurus laki-laki paruh baya dari motor bebek miliknya, bersama sorot tajam empat pasang mata, bagai serigala lapar hendak menerkam.

Kamis

HOAX?

Image Google
“Seorang pedagang pasar Klonyor mengamuk, lalu membakar barang dagangannya.”
Begitu bunyi pesan broadcast yang beredar di media sosial. Pesan tersebut menyebar begitu cepat dari akun ke akun hingga memicu kepanikan luar biasa di kalangan para pedagang.
Mbok Inah, pedagang beras di pasar Klonyor kejang-kejang hingga pingsan saat mendapat kabar dari anak bungsunya tentang pasar Klonyor yang terbakar. Pun begitu pak Sutoyo, juragan sembako itu terengah-engah lunglai, usai menerima informasi tentang pasar Klonyor dari tetangganya yang aktif di media sosial. Beda lagi dengan pak Rahmat, pedagang pakaian itu tiba-tiba meracau tak karuan sebab memikirkan hutang atas barang pesanannya yang baru datang tadi sore. Pak Warsidi lebih parah, ia nekad menenggak cairan pembasmi serangga dan harus dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk mendapat perawatan.


Minggu

Korenah VI

Image Google

Iklan
Pulang sekolah, Andri selonjoran di ruang tengah sambil menonton televisi. Saat lagi asyik menonton, Andri dikagetkan oleh suara panggilan mak Ratna yang tengah memasak di dapur.
“Le!”
“Iya, Mak.”
“Kamu lagi apa?”
“Nonton tipi.”
“Nanti kalau udah iklan, tolong beliin mak kecap ke warung depan.”
“Iya, Mak.”

Rabu

GANDORIAH

Antara Image

Debur ombak memecah buih di atas pasir pantai Gandoriah. Hembusan angin ditingkahi kepak sayap camar menari-nari pada alunan riak. Bersama kemilau jingga memeluk samudra, mentari tersipu menyongsong malam dari balik pulau Angsa Dua. Dalam kepingan senja nan teduh, pada ujung tumpukan batu pemecah ombak yang menjorok ke laut, Meta seorang perempuan muda duduk terpaku menikmati senja, ia melayangkan pandang ke tengah lautan, rambutnya yang panjang bersibak diterpa angin, kedua tangannya menggenggam erat buku harian bewarna merah muda. 
“Aku bukan Puti Gandoriah dan kamu bukan Anggun Nan Tongga, tapi … kenapa harus kita?” ucapnya lirih.
Perlahan Meta membuka buku harian.

Selasa

KEMALA

 
Image: Kumpulan Fiksi WordPress.com
Bocah perempuan berparas ayu dengan pakaian yang sudah kumal melintasi lorong pasar tradisional. Sesekali ia mempercepat langkah, berlari kecil di antara hiruk pikuk pedagang dan orang-orang yang tengah asyik berbelanja. Sudah hampir seminggu, setiap hari bocah berparas ayu itu melintasi lorong pasar, namun tidak ada satu orang pun yang tahu dari mana ia datang, dan ke mana ia hendak pergi. Jika masih sekolah, mungkin bocah itu baru kelas dua sekolah dasar.
“Bocah gelandangan,” celetuk seorang pedagang.
“Anak itu pasti terlahir karena seks bebas,” timpal pedagang lainnya.
“Orang tuanya kelewat kurang ajar, anak masih kecil sudah disuruh mengemis,” sambung pedagang lain.

Sabtu

Korenah V

Image: dreams.co.uk

(Jin Ifrit)

Mak Ratna histeris ketika mengetahui wajan yang sedang ia gunakan untuk menggoreng ikan, hilang begitu saja di atas tungku.

“Aaaaaaaaaaaaach, auw auw, wajanku!”

Mendengar mak Ratna histeris, pakle Veyz yang tengah merenovasi kandang ayam, berlari secepat bayangan menuju dapur.

“Ada opo toh, mbakyu?” tanya pakle Veyz.
“Anu … wajan hilang.”
“Pasti salah nyimpan.”

“Salah nyimpan opo? Orang tadi wajannya lagi mbak pakai menggoreng ikan. Baru saja mbak tinggal nyuci sendok, pas balik, wajannya sudah hilang, dicuri orang kali ya?”

“Wah … ndak yakin aku ada orang mau mencuri wajan burik bopeng.”

Korenah IV

Image: daridwina.wordpress.com

Timur membentang, kemilau rona langit membasuh bumi, menyentuh embun nan riang menari di ujung daun. Di sela bayang-bayang kabut tipis, kokok ayam jantan bersenandung merdu mencambuk keheningan, sebagai pengingat waktu bagi manusia agar segera keluar dari bingkai mimpi.
Selesai mandi, pakle Veyz duduk manis di depan televisi menikmati berita pagi. Sementara mak Ratna sibuk di dapur menyiapkan sarapan. Nah, Andri ke mana?
“Dik Veyz, nikahan anak bu Sukarti hari ini ya?” tanya mak Ratna pada pakle Veyz.
“Iya, mbakyu … jam berapa kita ke sana?”
“Nanti aja abis sarapan, tunggu Andri bangun dulu.” 
Pagi itu pakle Veyz, mak Ratna, dan Andri akan menghadiri resepsi pernikahan anak bu Sukarti.

Senin

Cari Kerja Apa Cari Duit?


Tiga bulan menapak waktu sebagai pengangguran intelek, Damar mulai dihinggapi rasa jenuh. Untaian detik setiap harinya ia habiskan di dalam kamar kos. Ke mana hendak pergi, teman-teman pun sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Dari pagi hingga petang menjelang, suasana di sekitar kos juga sepi, karena ditinggal penghuninya yang tengah memburu pundi-pundi rupiah.
Menjelang tengah hari, di halaman kos Damar melihat pak Saiman lagi membersihkan sampah menggunakan sapu lidi. Keberadaan pak Saiman menjadi pelipur tersendiri bagi Damar yang fakir teman ngobrol. Damar melangkah keluar mendekati pak Saiman.
“Lagi bersih-bersih pak.”
“Eh, iya nak Damar.”
“Boleh saya bantu.”
“Jangan, nanti baju nak Damar kotor.”
“Enggak apa-apa, pak.”
Walau dicegah, Damar tetap membantu pak Saiman memindahkan sampah ke dalam tahang.
Damar merasa kagum melihat semangat kerja pak Saiman. Di usianya yang sudah tidak muda lagi, pak Saiman seperti tidak kenal lelah. Sebagai orang kepercayaan pemilik kos, pak Saiman yang mengurus segala kebutuhan penghuni rumah kos yang terdiri dari sepuluh kamar itu. Mulai dari membersihkan sampah, mengurus listrik, air, hingga memperbaiki kerusakan bangunan. Satu pekerjaan berat lain yang harus dilakoni pak Saiman adalah menghadapi penghuni kos dengan berbagai latar belakang dan karakter. Keluhan, hardikan, bahkan cacian, namun semua itu tidak menyurutkan semangatnya.

Sabtu

Korenah III

Image clipartlord.com
Motor WIN pelat merah melaju pelan membelah jalan berkerikil di kaki bukit. Dengan sikap berkendara super hati-hati, pak Kades meliuk-liuk menjaga keseimbangan agar tidak tergelincir. Jalan tanah berlubang, kerikil dan batu berbagai ukuran menjadi penghalang yang membuat kendaraan dinas pak Kades tidak bisa melesat cepat. Siang itu pak Kades hendak menemui warga yang akan mendapat bantuan dari pemerintah pusat berupa sapi yang didatangkan langsung dari Inggris.
“Mau ke mana, pak Kades?” sapa pakle Veyz berjongkok memancing ikan gabus di rawa-rawa tepi jalan.
Mendengar suara seseorang menyapa, spontan pak Kades memalingkan wajah, tangan kirinya reflek menekan tuas kopling, membuat motor yang ia kendarai meluncur mulus dan baru berhenti ketika ban depan terjerembat masuk ke lubang jalan. Pak kades pun tersungkur bersama motor dinasnya.
“Oooiiii! Kalau mau nyapa lihat-lihat dong!”
Pakle Veyz menancapkan joran pancing ke tanah, bangkit, mengangkat pinggang celana agar tidak melorot, kemudian bergegas menolong pak Kades.
“Pak Kades enggak apa-apa?”
“Rasanya sih enggak apa-apa.”
Saat memapah pak Kades ke sisi jalan, ekor mata pakle Veyz melihat joran pancingnya bergerak-gerak. Tidak ingin kehilangan momen, pakle Veyz berlari secepat bayangan mendekati joran, agar ikan yang memakan umpannya tidak kabur.

Senin

Obrolan Warung Kopi

Image m.harianindo.com

Saya berdecak kagum ketika menyaksikan berita televisi. Pembaca berita menyampaikan kabar bahwa di Belanda beberapa penjara ditutup karena kekurangan penjahat. Saat tengah berfokus menyimak berita, tiba-tiba laki-laki paruh baya yang duduk di sebelah saya menyeletuk.
“Kamu tahu kenapa penjara di Belanda kekurangan penjahat?”
“Mungkin di sana banyak orang baik dan waras,” balas saya spontan. Sengaja saya tambahkan kata “mungkin” bukan karena saya ragu atas jawaban yang saya ucapkan, tapi itu bagian dari bumbu agar saya tidak terkesan sok benar.
“Jadi di negara kita penyebab penjara tumpah ruah karena banyak orang jahat dan orang tidak waras?”
“Pendapat saya begitu. Mungkin bapak punya pendapat lain?”
“Jawabannya kesejahteraan. Angka kejahatan bisa ditekan kalau masyarakat sejahtera.”
“Lima puluh persen saya sependapat sama bapak.”
“Kenapa cuma lima puluh persen?”
“Menurut saya yang lima puluh persen lagi ada pada akhlak yang baik.”
“Sok tahu kamu!”
“Bapak boleh saja mengatakan saya sok tahu, tapi saya punya alasan logis.”
Lelaki paruh baya itu senyum kering menatap saya seperti mengejek. “Apa alasan logis kamu?” tanyanya.
“Sejahtera, kesejahteraan berarti keadaan sejahtera; keamanan, keselamatan, ketentraman. Yang bapak sampaikan itu tujuan, sementara bapak melupakan proses menuju tujuan tersebut. Kita bisa memperbaiki akhlak (budi pekerti) tanpa harus sejahtera lebih dahulu, tetapi kita tidak akan bisa sejahtera tanpa membenahi akhlak. Jika yang bapak maksud sejahtera secara ekonomi, para pejabat kita kurang apa? Kenyataannya masih banyak oknum pejabat kita yang korupsi.”
Laki-laki paruh baya mangguk-mangguk, kemudian bangkit dari tempat duduk.
“Cara berpikir kamu keren! Saya pamit dulu,” ucapnya sambil menepuk-nepuk bahu saya.

Selasa

Balada 2J

Image google

“Bang, tadi sore tetangga kita beli tv baru, kita kapan ganti tv?” tanya Jubaidah pada suaminya sembari mengaduk secangkir kopi.
Julkipli diam seribu basa pura-pura tidak mendengar, ia terus membuka lembaran koran terbitan sepuluh tahun lalu di atas sofa usang rumah kontrakan sepetak yang sudah dua tahun mereka tempati.
“Baaaaang!”
“Apaan sih?”
“Ih, abang gitu ya, tadi aku nanya lo!”
“Tv kita kan masih bagus.”
“Bagus apanya, layar penuh laler begitu dibilang bagus, mana masih hitam putih pula.”
“Buat apa ganti tv? Lagian diganti juga namanya enggak bakal berubah, tetap aja tipi.”
“Tetangga sebelah sudah punya tv baru, Bang! Masa kita masih pakai tv lama. Abang udah enggak sayang ya sama Idah?”
“Abang sayang sama Idah, sumpah mati deh sayaaaaang banget. Sayang sama Idah, enggak sayang sama TV baru!”