Tampilkan postingan dengan label Cerita Mini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Mini. Tampilkan semua postingan

Rabu

NYELEKIT

Image Source: ms.pngtree.com

Seorang lelaki perlente dengan setelan kemeja yang dibalut jas rapi melangkah keluar kantor. Tangan kanannya menggenggam telepon seluler canggih yang ia tempelkan pada kuping kanan. Gerak kakinya terburu menapak trotoar depan gedung megah tempat ia berkantor. Lelaki perlente tertegun ketika melintas di hadapan seorang pengemis yang menghiba minta belas kasihan.


Selasa

Kena Teepu


Apes, itulah yang saya alami ketika naik Angkot kemarin sore. Dengan semena-mena tanpa perasaan, seorang perempuan paruh baya menuduh saya mengambil dompet miliknya. Dongkol, emosi, campur aduk jadi satu. Dan peristiwa kemarin itu benar-benar  akan menjadi pengalaman buruk seumur hidup saya.
Angkot sesak penumpang, duduk desak-desakan, sore menjelang magrib bertepatan pas jam pulang kerja, jam pulang sekolah juga. Perempuan paruh baya itu turun duluan dari angkot, ketika hendak membayar ongkos, ia tampak panik mengubek-ubek isi tasnya. Jreeng! Sorot matanya tertuju ke saya, dengan jari telunjuk tangan kirinya dia menunjuk tajam dan menuduh saya telah mengambil dompetnya.  Sumpah deh, dongkol kuadrat, asem benar tu perempuan.

Kamis

KELANGAN


Sedari pagi Puro uring-uringan, gairah hidupnya tampak memudar. Padahal sehari yang lalu ia masih begitu bersemangat, terlebih saat main media sosial menggunakan telepon pintar baru miliknya. Update status, komen sana, like sini, kadang tertawa sendiri menatap layar mungil yang ada dalam genggamannya. Namun hari  ini semua berbeda, Tagur pun merasa heran melihat perubahan sikap Puro.
“Kamu kenapa sih, dari tadi aku lihat murung mulu?” tanya Tagur.
“Aku lagi sedih, tolong jangan ganggu, biarkan aku sendiri.”
“Yahaaa, drama! Makane jangan banyak nonton sinetron!”

Selasa

Sial Majal

Image: Detik.com

“Lepas jaket, serahkan motor lu!”
“Sila ambil motor saya, tapi jaket jangan … saya mohon!”
“Banyak bacot lu! Turuuun!”
Hembusan angin malam tak cukup mampu meredam ketegangan. Sebuah dorongan menghempas tubuh kurus laki-laki paruh baya dari motor bebek miliknya, bersama sorot tajam empat pasang mata, bagai serigala lapar hendak menerkam.