Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Senin

Cari Kerja Apa Cari Duit?


Tiga bulan menapak waktu sebagai pengangguran intelek, Damar mulai dihinggapi rasa jenuh. Untaian detik setiap harinya ia habiskan di dalam kamar kos. Ke mana hendak pergi, teman-teman pun sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Dari pagi hingga petang menjelang, suasana di sekitar kos juga sepi, karena ditinggal penghuninya yang tengah memburu pundi-pundi rupiah.
Menjelang tengah hari, di halaman kos Damar melihat pak Saiman lagi membersihkan sampah menggunakan sapu lidi. Keberadaan pak Saiman menjadi pelipur tersendiri bagi Damar yang fakir teman ngobrol. Damar melangkah keluar mendekati pak Saiman.
“Lagi bersih-bersih pak.”
“Eh, iya nak Damar.”
“Boleh saya bantu.”
“Jangan, nanti baju nak Damar kotor.”
“Enggak apa-apa, pak.”
Walau dicegah, Damar tetap membantu pak Saiman memindahkan sampah ke dalam tahang.
Damar merasa kagum melihat semangat kerja pak Saiman. Di usianya yang sudah tidak muda lagi, pak Saiman seperti tidak kenal lelah. Sebagai orang kepercayaan pemilik kos, pak Saiman yang mengurus segala kebutuhan penghuni rumah kos yang terdiri dari sepuluh kamar itu. Mulai dari membersihkan sampah, mengurus listrik, air, hingga memperbaiki kerusakan bangunan. Satu pekerjaan berat lain yang harus dilakoni pak Saiman adalah menghadapi penghuni kos dengan berbagai latar belakang dan karakter. Keluhan, hardikan, bahkan cacian, namun semua itu tidak menyurutkan semangatnya.

Obrolan Warung Kopi

Image m.harianindo.com

Saya berdecak kagum ketika menyaksikan berita televisi. Pembaca berita menyampaikan kabar bahwa di Belanda beberapa penjara ditutup karena kekurangan penjahat. Saat tengah berfokus menyimak berita, tiba-tiba laki-laki paruh baya yang duduk di sebelah saya menyeletuk.
“Kamu tahu kenapa penjara di Belanda kekurangan penjahat?”
“Mungkin di sana banyak orang baik dan waras,” balas saya spontan. Sengaja saya tambahkan kata “mungkin” bukan karena saya ragu atas jawaban yang saya ucapkan, tapi itu bagian dari bumbu agar saya tidak terkesan sok benar.
“Jadi di negara kita penyebab penjara tumpah ruah karena banyak orang jahat dan orang tidak waras?”
“Pendapat saya begitu. Mungkin bapak punya pendapat lain?”
“Jawabannya kesejahteraan. Angka kejahatan bisa ditekan kalau masyarakat sejahtera.”
“Lima puluh persen saya sependapat sama bapak.”
“Kenapa cuma lima puluh persen?”
“Menurut saya yang lima puluh persen lagi ada pada akhlak yang baik.”
“Sok tahu kamu!”
“Bapak boleh saja mengatakan saya sok tahu, tapi saya punya alasan logis.”
Lelaki paruh baya itu senyum kering menatap saya seperti mengejek. “Apa alasan logis kamu?” tanyanya.
“Sejahtera, kesejahteraan berarti keadaan sejahtera; keamanan, keselamatan, ketentraman. Yang bapak sampaikan itu tujuan, sementara bapak melupakan proses menuju tujuan tersebut. Kita bisa memperbaiki akhlak (budi pekerti) tanpa harus sejahtera lebih dahulu, tetapi kita tidak akan bisa sejahtera tanpa membenahi akhlak. Jika yang bapak maksud sejahtera secara ekonomi, para pejabat kita kurang apa? Kenyataannya masih banyak oknum pejabat kita yang korupsi.”
Laki-laki paruh baya mangguk-mangguk, kemudian bangkit dari tempat duduk.
“Cara berpikir kamu keren! Saya pamit dulu,” ucapnya sambil menepuk-nepuk bahu saya.

Selasa

Bakat

Image Google

Bakat adalah kemampuan yang menonjol. Tapi perlu dicatat! Tidak semua yang menonjol adalah bakat.:D

Bakat merupakan bawaan lahir. Tapi ingat! Tidak hanya bakat yang dibawa ketika lahir, kadang ada juga yang bawa koper.:D

Saya tidak akan bisa mendefinisikan bakat secara utuh hingga dapat mewakili semua pandangan, karena saya memang tidak berbakat untuk itu. Namun saya tetap berusaha sesuai batas kemampuan yang saya miliki, untuk menelaah dan membagikan hasilnya kepada teman-teman semua.

Apa sih sebenarnya bakat itu?

Bakat adalah kepandaian, sifat dan pembawaan yang dibawa sejak lahir. ß Walau hasil nyontek dari KBBI, tapi saya tetap bangga, karena ternyata saya juga punya bakat nyontek.:D

Nah, agar pembahasan ini tidak ngapung alias ngambang, terus hanyut ke muara, wahahhahaa. Saya akan memberikan contoh yang kongkret dan hasilnya bisa dipertanggungjawabkan secara hukum.

Contoh:

Kamis

Lupa Bikin Judul


Semoga belum lupa. Ketika semua lembaga survei kredibel mengatakan Jerman menang tipis atas Argentina, sementara ada beberapa lembaga survei abal-abal yang ngotot mengatakan Argentina sebagai pemenangnya.
 
Ada suatu masa yang mana pesta demokrasi diwarnai dengan perseteruan sengit seolah kita tak berdiri di antara tiang bendera yang sama. Saling serang, saling sikut, saling hantam, perang opini, sampai perang fitnah. Memang tidak melibatkan fisik, tetapi proses itu telah cukup membuat urat saraf lelah, bahkan nyaris putus. Nusantara seperti terbelah, seolah kita tidak lahir dari rahim yang sama (Ibu Pertiwi), seolah kita bukan putra putri terbaik bangsa yang terdidik dengan budaya timur yang menjunjung tinggi norma dan nilai-nilai (kesopanan).

Pantaskah kita merindukan suasana seperti kala itu atau malah merasa jijik ketika harus mengenangnya?
Lantas, apa yang salah dengan demokrasi kita?

Rabu

Menembus Batas



Saya banyak menemukan komunitas anti A, komunitas anti B dan komunitas sejenis lainnya. Tetapi saya tidak paham apa tujuan mereka untuk menciptakan komunitas tersebut, bilamana sebagian besar opini anggotanya yang saya temukan dan yang saya lihat hanya berupa caci maki dan sumpah serapah tanpa ada diskusi yang sehat, pencerahan ataupun upaya mencari titik temu untuk membenahi, meluruskan atau menyelesaikan hal-hal yang membuat mereka antipati dan membenci.

Benar adanya, setiap orang bebas mengekspresikan dirinya menjadi apa dan seperti apa yang mereka mau. Selagi tidak melanggar norma, nilai-nilai serta aturan yang berlaku, tentu semua akan dianggap wajar dan sah-sah saja. Akan tetapi, bila hal yang kita lakukan tersebut hanya merupakan suatu yang sia-sia, tidak mengubah apa-apa, tidak memiliki daya guna apa-apa, masihkah semua itu disebut upaya perjuangan? Bahkan sebuah niat baik sekalipun bila dilakukan dengan cara yang tidak baik, bisa dipastikan akan berakhir dengan tidak baik pula.

Ubah



Apa yang mesti kita lakukan, saat orang-orang yang mewakili kita tidak lagi memihak kepada kita? Apa yang mesti kita lakukan, saat orang-orang yang katanya ada untuk kita, tetapi mengabaikan aspirasi kita? Apa yang mesti kita lakukan, saat orang-orang yang katanya peduli terhadap kita, tetapi lebih mengedepankan kepentingannya yang tidak terlalu penting? Apa yang mesti kita lakukan, saat orang-orang  yang katanya mengabdi untuk kita, tetapi meludahi mungka kita?

Saya yakin, sobat mungkin sudah mendengar berita tentang rencana pembangunan gedung baru yang katanya super mewah, untuk bakal tempat para anggota dewan yang terhormat bekerja sehari-hari demi rakyat. Yang mana anggarannya diperkirakan mencapai Rp1,1,38 triliun. Setara dengan pembangunan 32.000 gedung sekolah baru. Bila anggaran tersebut dialokasikan untuk pengadaan lahan sawah, bisa untuk menciptakan 20.000 hektar lahan atau membangun 11.600 rumah sederhana untuk masyarakat.

Jumat

O . K . B . M



Ada orang yang dalam kehidupannya miskin sekali akan kata-kata, bahkan untuk bertegur sapa dengan sesamanya saja dia tidak mampu. Ada juga orang yang kaya akan kata-kata, dia berbicara berdasarkan dari apa yang sudah ia pahami, sehingga apa yang ia bicarakan bermanfaat bagi orang lain. Ada juga orang yang berlimpah serta kaya raya akan kata-kata, sehingga membuat dia menjadi orang yang boros dalam menabur ucapan, walau apa yang ia ucapkan sama sekali tidak berguna, terkadang malah mencederai perasaan orang lain. Ada juga orang yang hanya bisa berkata dengan sangat luar biasa, tetapi dalam prakteknya dia sendiri tidak mampu merealisasikannya. 

Minggu

Purpose of Blogging


Sebenarnya tulisan saya kali ini merupakan jawaban dari hasil dari blogwalking saya tempo hari. Yang mana di postingan salah seorang sobat sesama blogger, saya menemukan pembahasan tentang “Ngeblog tanpa tujuan buat apa?” Setelah saya membaca postingan tersebut sampai selesai ternyata saya mendapatkan uraian dari si penulis postingan tersebut sedikit bertentangan dengan ideologi saya. Menurut saya uraiannya sedikit mencederai kebebasan dalam berekspresi dan terkesan merendahkan apa yang telah dilakukan blogger lain.