Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan

Senin

Obrolan Warung Kopi

Image m.harianindo.com

Saya berdecak kagum ketika menyaksikan berita televisi. Pembaca berita menyampaikan kabar bahwa di Belanda beberapa penjara ditutup karena kekurangan penjahat. Saat tengah berfokus menyimak berita, tiba-tiba laki-laki paruh baya yang duduk di sebelah saya menyeletuk.
“Kamu tahu kenapa penjara di Belanda kekurangan penjahat?”
“Mungkin di sana banyak orang baik dan waras,” balas saya spontan. Sengaja saya tambahkan kata “mungkin” bukan karena saya ragu atas jawaban yang saya ucapkan, tapi itu bagian dari bumbu agar saya tidak terkesan sok benar.
“Jadi di negara kita penyebab penjara tumpah ruah karena banyak orang jahat dan orang tidak waras?”
“Pendapat saya begitu. Mungkin bapak punya pendapat lain?”
“Jawabannya kesejahteraan. Angka kejahatan bisa ditekan kalau masyarakat sejahtera.”
“Lima puluh persen saya sependapat sama bapak.”
“Kenapa cuma lima puluh persen?”
“Menurut saya yang lima puluh persen lagi ada pada akhlak yang baik.”
“Sok tahu kamu!”
“Bapak boleh saja mengatakan saya sok tahu, tapi saya punya alasan logis.”
Lelaki paruh baya itu senyum kering menatap saya seperti mengejek. “Apa alasan logis kamu?” tanyanya.
“Sejahtera, kesejahteraan berarti keadaan sejahtera; keamanan, keselamatan, ketentraman. Yang bapak sampaikan itu tujuan, sementara bapak melupakan proses menuju tujuan tersebut. Kita bisa memperbaiki akhlak (budi pekerti) tanpa harus sejahtera lebih dahulu, tetapi kita tidak akan bisa sejahtera tanpa membenahi akhlak. Jika yang bapak maksud sejahtera secara ekonomi, para pejabat kita kurang apa? Kenyataannya masih banyak oknum pejabat kita yang korupsi.”
Laki-laki paruh baya mangguk-mangguk, kemudian bangkit dari tempat duduk.
“Cara berpikir kamu keren! Saya pamit dulu,” ucapnya sambil menepuk-nepuk bahu saya.

Kamis

Secarik Kertas Tanpa Makna



Di lorong gang pemukiman padat penduduk, seorang Lelaki berpakaian necis berjalan sambil menggenggam secarik kertas di tangan kirinya. Detak langkahnya menghunus debu bekas galian, menghinggapi sepatu pantofel hitam yang membungkus kakinya.  Di tengah perjalanan, Ia melihat tiga orang bocah usia belasan sedang asyik bermain bola plastik. Sejenak Lelaki necis menghentikan langkahnya, lalu menghampiri salah seorang bocah.

“Dik, namanya siapa?” Tanya Lelaki necis.


Bocah: Andi, Om!


Lelaki necis: Andi sekarang kelas berapa?


Bocah: Sudah enggak sekolah, Om.


Lelaki necis: Kenapa tidak sekolah?


Bocah: Tiga bulan yang lalu Ayah sakit keras dan sampai sekarang belum sembuh. Ayah adalah tulang punggung keluarga kami. Ibu yang biasanya bertugas mengurus rumah tangga, memasak, beres-beres rumah, merawatku dan dua adikku, sekarang harus bekerja menggantikan Ayah. Ibuku sekarang berjualan makanan kecil, hasilnya hanya cukup untuk biaya makan kami sehari-hari, sisanya untuk biaya berobat Ayah.”


Lelaki necis terdiam, matanya berkaca, sambil membuka secarik kertas dari tangan kirinya, ia menuliskan sesuatu.

Senin

Kutipan Sang Presiden

Sumber foto: Jokowi

Kutipan Sang Presiden adalah rangkuman pernyataan Bapak Presiden Joko Widodo yang saya kutip dari tweet atau kicauan akun twitter miliknya. Kutipan ini tidak mengambil semua  tweet dari akun twitter milik Pak Jokowi, kecuali kata-kata yang menurut saya menarik. 

Selamat membaca!    


Hati nurani adalah indera keenam yang melengkapi kelima indera, jadikanlah kompas dalam setiap langkah.

..

Kamis

Lupa Bikin Judul


Semoga belum lupa. Ketika semua lembaga survei kredibel mengatakan Jerman menang tipis atas Argentina, sementara ada beberapa lembaga survei abal-abal yang ngotot mengatakan Argentina sebagai pemenangnya.
 
Ada suatu masa yang mana pesta demokrasi diwarnai dengan perseteruan sengit seolah kita tak berdiri di antara tiang bendera yang sama. Saling serang, saling sikut, saling hantam, perang opini, sampai perang fitnah. Memang tidak melibatkan fisik, tetapi proses itu telah cukup membuat urat saraf lelah, bahkan nyaris putus. Nusantara seperti terbelah, seolah kita tidak lahir dari rahim yang sama (Ibu Pertiwi), seolah kita bukan putra putri terbaik bangsa yang terdidik dengan budaya timur yang menjunjung tinggi norma dan nilai-nilai (kesopanan).

Pantaskah kita merindukan suasana seperti kala itu atau malah merasa jijik ketika harus mengenangnya?
Lantas, apa yang salah dengan demokrasi kita?

Jumat

Hypocrite


Untuk yang selalu bicara dari rakyat juga untuk rakyat, tapi rakyat dimakan habis. Untuk semua yang memuja kemunafikkan. Untuk semua kepalsuan. Untuk semua kecurangan yang didustai. Untuk semua kebobrokkan yang bersembunyi di balik jubah kebesaran. Enyahlah semua kemunafikkan!


Hypocrite

Hey kamu yang di sana
Dengarin gue bicara

Pasang lebar kuping telinga
Dengarkan dengan saksama

Lo baik, lo sialan
Lo terhormat, lo biadab
Lo ramah, lo serakah
Lo berkuasa, lo penjajah
Lo ooo, haram jadah


~~~~~ \m/ ~~~~~

Nb: Mohon maaf sobat, liriknya agak sedikit keras, tapi itulah gaya saya dalam berkarya, apa adanya tanpa kemunafikkan. \m/

Sudden Discussion


Bukan orang lain, hanya kita yang mampu merubah diri kita, masa depan kita di tangan kita dan masa depan dunia pun ada di tangan kita. So, keep living life with passion and conviction!

Saya menulis tulisan di atas pada sebuah wall grup komunitas. Tujuan awal saya hanya sekedar berbagi kata-kata motivasi kepada pengunjung lainnya. Dikarenakan ada salah seorang pengunjung yang merespon tulisan tersebut, maka terjadilah diskusi singkat, padahal saya menulisnya bukan pada space forum diskusi. Imbasnya pengunjung lain tidak mau terlibat langsung, kecuali hanya sebagai penonton yang bersorak-sorak di kursi beranda. 

Senin

Yang Muda Yang Bicara (Yang Muda Tidak Lagi Dipandang Sebelah Mata)




Membaca judul di atas, para sobat mungkin akan berkata walau hanya di dalam hati, “(Asal deh si TM! mana ada istilah yang muda tidak lagi dipandang sebelah mata, yang ada itu: Yang muda dipandang sebelah mata” ya kan.? jangan bohong deh, bohong dosa loh, hehehe maksa). Benar, saya juga setuju bahwa kenyataannya istilah yang beredar di lingkungan masyarakat kita itu ”Yang muda dipandang sebelah mata” dan saya mengatakan semua itu benar bukan hanya karena semata-mata saya pernah mendengarkannya, tetapi saya juga pernah merasakan panasnya hawa tubuh saat berada di dalam lingkarannya, apakah sobat pernah mengalaminya?