Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan

Selasa

VISIONER

Image Google

Malam itu saya dan istri bertengkar hebat karena persoalan tidak penting atau bisa juga dibilang belum penting untuk dibahas. Ketika menonton siaran bola liga Inggris di televisi, saya menyeletuk, semoga kelak Ujo, anak kami yang baru berumur dua bulan menjadi penerus Wayne Rooney di Manchester United. Mendengar celetukan saya, istri langsung menyemprot.

“Ngayal jangan ketinggian, Pak! Lagian, ngarahin anak kok jadi pemain bola. Cita-cita anak tu mbok yang berkelas, jadi Dokter kek! Jadi PNS kek!”

Kamis

HOAX?

Image Google
“Seorang pedagang pasar Klonyor mengamuk, lalu membakar barang dagangannya.”
Begitu bunyi pesan broadcast yang beredar di media sosial. Pesan tersebut menyebar begitu cepat dari akun ke akun hingga memicu kepanikan luar biasa di kalangan para pedagang.
Mbok Inah, pedagang beras di pasar Klonyor kejang-kejang hingga pingsan saat mendapat kabar dari anak bungsunya tentang pasar Klonyor yang terbakar. Pun begitu pak Sutoyo, juragan sembako itu terengah-engah lunglai, usai menerima informasi tentang pasar Klonyor dari tetangganya yang aktif di media sosial. Beda lagi dengan pak Rahmat, pedagang pakaian itu tiba-tiba meracau tak karuan sebab memikirkan hutang atas barang pesanannya yang baru datang tadi sore. Pak Warsidi lebih parah, ia nekad menenggak cairan pembasmi serangga dan harus dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk mendapat perawatan.


Senin

Cari Kerja Apa Cari Duit?


Tiga bulan menapak waktu sebagai pengangguran intelek, Damar mulai dihinggapi rasa jenuh. Untaian detik setiap harinya ia habiskan di dalam kamar kos. Ke mana hendak pergi, teman-teman pun sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Dari pagi hingga petang menjelang, suasana di sekitar kos juga sepi, karena ditinggal penghuninya yang tengah memburu pundi-pundi rupiah.
Menjelang tengah hari, di halaman kos Damar melihat pak Saiman lagi membersihkan sampah menggunakan sapu lidi. Keberadaan pak Saiman menjadi pelipur tersendiri bagi Damar yang fakir teman ngobrol. Damar melangkah keluar mendekati pak Saiman.
“Lagi bersih-bersih pak.”
“Eh, iya nak Damar.”
“Boleh saya bantu.”
“Jangan, nanti baju nak Damar kotor.”
“Enggak apa-apa, pak.”
Walau dicegah, Damar tetap membantu pak Saiman memindahkan sampah ke dalam tahang.
Damar merasa kagum melihat semangat kerja pak Saiman. Di usianya yang sudah tidak muda lagi, pak Saiman seperti tidak kenal lelah. Sebagai orang kepercayaan pemilik kos, pak Saiman yang mengurus segala kebutuhan penghuni rumah kos yang terdiri dari sepuluh kamar itu. Mulai dari membersihkan sampah, mengurus listrik, air, hingga memperbaiki kerusakan bangunan. Satu pekerjaan berat lain yang harus dilakoni pak Saiman adalah menghadapi penghuni kos dengan berbagai latar belakang dan karakter. Keluhan, hardikan, bahkan cacian, namun semua itu tidak menyurutkan semangatnya.

Obrolan Warung Kopi

Image m.harianindo.com

Saya berdecak kagum ketika menyaksikan berita televisi. Pembaca berita menyampaikan kabar bahwa di Belanda beberapa penjara ditutup karena kekurangan penjahat. Saat tengah berfokus menyimak berita, tiba-tiba laki-laki paruh baya yang duduk di sebelah saya menyeletuk.
“Kamu tahu kenapa penjara di Belanda kekurangan penjahat?”
“Mungkin di sana banyak orang baik dan waras,” balas saya spontan. Sengaja saya tambahkan kata “mungkin” bukan karena saya ragu atas jawaban yang saya ucapkan, tapi itu bagian dari bumbu agar saya tidak terkesan sok benar.
“Jadi di negara kita penyebab penjara tumpah ruah karena banyak orang jahat dan orang tidak waras?”
“Pendapat saya begitu. Mungkin bapak punya pendapat lain?”
“Jawabannya kesejahteraan. Angka kejahatan bisa ditekan kalau masyarakat sejahtera.”
“Lima puluh persen saya sependapat sama bapak.”
“Kenapa cuma lima puluh persen?”
“Menurut saya yang lima puluh persen lagi ada pada akhlak yang baik.”
“Sok tahu kamu!”
“Bapak boleh saja mengatakan saya sok tahu, tapi saya punya alasan logis.”
Lelaki paruh baya itu senyum kering menatap saya seperti mengejek. “Apa alasan logis kamu?” tanyanya.
“Sejahtera, kesejahteraan berarti keadaan sejahtera; keamanan, keselamatan, ketentraman. Yang bapak sampaikan itu tujuan, sementara bapak melupakan proses menuju tujuan tersebut. Kita bisa memperbaiki akhlak (budi pekerti) tanpa harus sejahtera lebih dahulu, tetapi kita tidak akan bisa sejahtera tanpa membenahi akhlak. Jika yang bapak maksud sejahtera secara ekonomi, para pejabat kita kurang apa? Kenyataannya masih banyak oknum pejabat kita yang korupsi.”
Laki-laki paruh baya mangguk-mangguk, kemudian bangkit dari tempat duduk.
“Cara berpikir kamu keren! Saya pamit dulu,” ucapnya sambil menepuk-nepuk bahu saya.

Minggu

Mengejar Harta Kirun


Kakek tua dengan jubah kusam yang dikenakannya melangkah tergopoh di sela gerimis yang turun menyapa bumi. Penduduk desa Cemewei merasa heran dan bertanya-tanya, “siapakah gerangan kakek tua itu?”
Andri dan pakle Veyz yang tengah duduk santai di teras rumah, saling bertukar pandang ketika menyaksikan kakek tua melintas di jalan kecil yang membentang panjang berliku.
“Le, coba kamu lihat kakek tua itu!” bisik pakle Veyz.
“Iya, Pakle. Sepertinya beliau orang baru,” balas Andri.
“Kita samper yuk!”
“Hayuk!”
Sejurus kemudian Andri dan pakle Veyz bergegas mendekati kakek tua.
“Hai, Kek! Apa kiranya yang dirimu cari, sementara rintik gerimis hampir membasuh separuh jubahmu?” tanya pakle Veyz bak penyair kehilangan panggung.
Usai batuk tujuh puluh kali (Buset! Panjang banget batuknya, wahahaha) kakek tua berkata penuh wibawa.
“Uhuuuk! Tujuan saya datang ke desa ini untuk mencari orang baik yang berhati tulus suci dan mulia, yang bersedia menerima warisan tak ternilai dari leluhur.”
“Mohon maaf, kami tidak mengerti maksud kakek,” sambung Andri.
Belum sempat kakek tua menjawab pertanyaan Andri, pakle Veyz menimpali.
“Sebaiknya kita ngobrol di sana saja, Kek. Tampaknya hujan semakin deras,” ucap pakle Veyz sambil menunjuk ke arah teras rumah.