Tampilkan postingan dengan label Hukum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hukum. Tampilkan semua postingan

Kamis

HOAX?

Image Google
“Seorang pedagang pasar Klonyor mengamuk, lalu membakar barang dagangannya.”
Begitu bunyi pesan broadcast yang beredar di media sosial. Pesan tersebut menyebar begitu cepat dari akun ke akun hingga memicu kepanikan luar biasa di kalangan para pedagang.
Mbok Inah, pedagang beras di pasar Klonyor kejang-kejang hingga pingsan saat mendapat kabar dari anak bungsunya tentang pasar Klonyor yang terbakar. Pun begitu pak Sutoyo, juragan sembako itu terengah-engah lunglai, usai menerima informasi tentang pasar Klonyor dari tetangganya yang aktif di media sosial. Beda lagi dengan pak Rahmat, pedagang pakaian itu tiba-tiba meracau tak karuan sebab memikirkan hutang atas barang pesanannya yang baru datang tadi sore. Pak Warsidi lebih parah, ia nekad menenggak cairan pembasmi serangga dan harus dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk mendapat perawatan.


Senin

Obrolan Warung Kopi

Image m.harianindo.com

Saya berdecak kagum ketika menyaksikan berita televisi. Pembaca berita menyampaikan kabar bahwa di Belanda beberapa penjara ditutup karena kekurangan penjahat. Saat tengah berfokus menyimak berita, tiba-tiba laki-laki paruh baya yang duduk di sebelah saya menyeletuk.
“Kamu tahu kenapa penjara di Belanda kekurangan penjahat?”
“Mungkin di sana banyak orang baik dan waras,” balas saya spontan. Sengaja saya tambahkan kata “mungkin” bukan karena saya ragu atas jawaban yang saya ucapkan, tapi itu bagian dari bumbu agar saya tidak terkesan sok benar.
“Jadi di negara kita penyebab penjara tumpah ruah karena banyak orang jahat dan orang tidak waras?”
“Pendapat saya begitu. Mungkin bapak punya pendapat lain?”
“Jawabannya kesejahteraan. Angka kejahatan bisa ditekan kalau masyarakat sejahtera.”
“Lima puluh persen saya sependapat sama bapak.”
“Kenapa cuma lima puluh persen?”
“Menurut saya yang lima puluh persen lagi ada pada akhlak yang baik.”
“Sok tahu kamu!”
“Bapak boleh saja mengatakan saya sok tahu, tapi saya punya alasan logis.”
Lelaki paruh baya itu senyum kering menatap saya seperti mengejek. “Apa alasan logis kamu?” tanyanya.
“Sejahtera, kesejahteraan berarti keadaan sejahtera; keamanan, keselamatan, ketentraman. Yang bapak sampaikan itu tujuan, sementara bapak melupakan proses menuju tujuan tersebut. Kita bisa memperbaiki akhlak (budi pekerti) tanpa harus sejahtera lebih dahulu, tetapi kita tidak akan bisa sejahtera tanpa membenahi akhlak. Jika yang bapak maksud sejahtera secara ekonomi, para pejabat kita kurang apa? Kenyataannya masih banyak oknum pejabat kita yang korupsi.”
Laki-laki paruh baya mangguk-mangguk, kemudian bangkit dari tempat duduk.
“Cara berpikir kamu keren! Saya pamit dulu,” ucapnya sambil menepuk-nepuk bahu saya.

Bakiak Sakti (Loket 1)

Image Google

Pulang sekolah, Zulfa Putri Bungsu menunggu Andri di depan pos Satpam dekat pintu gerbang, sambil menenteng kantong kresek bekas yang berisi bingkisan dan sebutir telur ayam negri. Siang itu Putri hendak memberikan kejutan dan kado spesial untuk Andri, sebagai hadiah ulang tahun.

Guna memuluskan rencananya, Putri bekerjasama dengan salah seorang Satpam sekolah. Sesuai skenario yang mereka buat kala itu, Putri membelakangi jalan yang akan dilalui Andri. Ketika Andri sudah berada tepat di belakangnya, Satpam akan memberi kode kepada Putri dengan cara mengangkat tangan kanannya.

Sepuluh menit menunggu penuh harap. Dari kejauhan, Putri melihat Andri keluar dari kelasnya. Semakin langkah Andri mendekat, semakin cepat pula irama dak dik duk ser tang dung dung yang terus bergema di hati Putri. Berharap lelaki yang tak kenal lelah mengejar cintanya itu menyukai kejutan dan hadiah yang akan ia berikan.

Dengan hati yang tak henti berdebar, Putri semakin resah menunggu kode dari pak Satpam. Dak dik duk ser! Tiba-tiba Satpam mengangkat tangan kanannya. Seketika Putri membalikkan badan, lalu menamplokkan telur ke muka orang yang berada di belakangnya.

“Plaaaaaaaaaaak!”

Rabu

Versus Preman



Premanisme (berasal dari kata bahasa Belanda vrijman = orang bebas, merdeka dan isme = aliran) adalah sebutan pejoratif yang sering digunakan untuk merujuk kepada kegiatan sekelompok orang yang mendapatkan penghasilannya terutama dari pemerasan dari kelompok masyarakat lain.[1]

Preman, kata yang satu ini memang sudah begitu sangat akrab di telinga kita. Seperti apa mereka, bagaimana sepak terjang mereka dalam beraksi, saya yakin sobat semua sudah mengetahui itu. Namun tulisan saya kali ini tidak untuk mendefinisikan kata preman, melainkan saya ingin berbagi sedikit pengalaman saya ketika berhadapan dengan preman.