| Source: Bookslife |
Tampilkan postingan dengan label Sederhana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sederhana. Tampilkan semua postingan
Jumat
Jolang Versus Koruptor
Label:
Buku,
Guru,
Humor,
Jolang,
Jomblo,
Keluarga,
Lucu,
Motivasi,
Ngakak,
Novel,
Novel Jolang,
Perjodohan,
Persahabatan,
Politik,
Romance,
Sahabat,
Sederhana
Selasa
Ayah
![]() |
| Image Google |
Laki-laki
paruh baya dengan kemeja lusuh duduk mengamati sosok mungil yang tengah fokus
dengan mangkuk baso di hadapannya. Bocah perempuan usia lima tahun itu tampak
lahap. Laki-laki paruh baya melepas topi kumal warna krem, kemudian meletakkannya
di atas meja, ia tersenyum tulus melihat
keceriaan anak perempuannya yang tengah menikmati semangkuk baso. Lembar nasib terlukis
pada gurat wajah menua, wajah yang sudah kenyang merancah hitam putih kehidupan.
“Ayah mau?”
ucap bocah perempuan mengangkat sendok berisi baso kecil.
“Ayah sudah kenyang.”
Balada 2J
![]() |
| Image google |
“Bang, tadi sore tetangga kita beli tv baru, kita kapan ganti tv?”
tanya Jubaidah pada suaminya sembari mengaduk secangkir kopi.
Julkipli diam seribu basa pura-pura tidak mendengar,
ia terus membuka lembaran koran terbitan sepuluh tahun lalu di atas sofa usang
rumah kontrakan sepetak yang sudah dua tahun mereka tempati.
“Baaaaang!”
“Apaan sih?”
“Ih, abang gitu ya, tadi aku nanya lo!”
“Tv kita kan masih bagus.”
“Bagus apanya, layar penuh laler begitu dibilang
bagus, mana masih hitam putih pula.”
“Buat apa ganti tv? Lagian diganti juga namanya enggak
bakal berubah, tetap aja tipi.”
“Tetangga sebelah sudah punya tv baru, Bang! Masa kita
masih pakai tv lama. Abang udah enggak sayang ya sama Idah?”
“Abang sayang sama Idah, sumpah mati deh sayaaaaang
banget. Sayang sama Idah, enggak sayang sama TV baru!”
Sabtu
Dongeng Sebelum Ngompol
![]() |
| Image Google |
Di sore hari nan cerah, melangkah gontai
sekelompok umat manusia yang tersesat di tengah hutan belantara. Sosok tersebut
terdiri dari empat orang, yaitu satu paman dan tiga ponakan. Sang paman bernama
pakle Veyz, dan tiga orang keponakannya bernama Andri, Adit, dan Amar.
Mereka tersesat usai mencari batu akik
di hutan terlarang yang berada di lereng gunung Meruyeng Cekak-Cekuk. Upaya
mereka mencari batu akik gagal total, pun begitu juga dengan upaya mereka
mencari jalan pulang.
“Pakle, sepertinya kita tersesat!” ucap
Adit sambil menggaruk-garuk hidung.
“Iya pakle. Hampir setengah hari kita
hanya berputar di sini saja,” sambung Amar.
“Tadi pagi sebelum berangkat sudah aku
bilang, hutan ini berbahaya,” timpal Andri, yang sedari awal memang menolak
ikut, tapi pakle Veyz memaksanya.
Pakle Veyz tidak menggubris perkataan
keponakannya, ia hanya menundukkan kepala sambil terus mengucapkan mantra.
“Ndul
gondal gandul gondal gandul, si gundul nyolong pacul. Ndul gondal gandul gondal
gandul, si gundul nyolong pacul.”
“Aku ingat tips dari leluhur dulu kalau kita tersesat di tengah hutan,” ucap
Andri sambil membenahi tali plastik pengikat celananya.
Minggu
Langkah Mungil Sang Pemburu Mimpi
![]() |
| Image: himakom unsoed |
Kala awan pagi menyibak langit,
mengusik gemulai tarian embun di ujung daun.
Langkah-langkah waktu perlahan beranjak lupakan
mimpi malam.
Kokok ayam bagai lolongan serigala mencambuk
asa.
Engkau beranjak dari tempat tidur lusuh,
menuju dapur tanpa kamar mandi.
Secawan air telah cukup bagimu untuk menyeka
wajah.
Cahaya keemasan yang terpancar dari sisi bilik
rumah panggung,
sebagai
penunjuk waktu bagimu untuk segera berkemas,
menjemput cita-cita di balik belantara
sunyi.
Seragam lusuh, tas lusuh, buku lusuh, tetapi
tidak begitu dengan semangatmu.
Jumat
Sederhana
SEDERHANA, begitu sederhananya kata yang satu ini. Namun sesederhana itu jugakah untuk merealisasikannya di dalam kehidupan kita? Jawabannya ada di dalam hati masing-masing kita. Berkecukupan, kebutuhan yang terpenuhi, sudah lengkapkah semua itu? Seberapa pentingkah bagi kita untuk menanamkan kesederhanaan di dalam kehidupan?
Saat tuntutan hati dan tuntutan kebutuhan berjalan tidak seiring kemampuan, dari situ akan mengudang munculnya penyakit hati. Keluh kesah, iri dan sejenisnya. Sederhana dengan memenuhi kebutuhan, bukan keinginan. Karena keinginan sering kali membuat kita terhanyut untuk mengikuti ego dan nafsu tanpa batas yang jelas. Yang mana bila diikuti tanpa kemampuan yang cukup, tentunya akan membawa penderitaan.
Pandanglah orang yang di bawah kamu dan janganlah memandang kepada yang di atasmu, karena itu akan lebih layak bagimu untuk tidak menghina kenikmatan yang telah diberika ALLAH kepadamu[1].
Langganan:
Postingan (Atom)




