Tampilkan postingan dengan label Sekolah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sekolah. Tampilkan semua postingan

Rabu

GANDORIAH

Antara Image

Debur ombak memecah buih di atas pasir pantai Gandoriah. Hembusan angin ditingkahi kepak sayap camar menari-nari pada alunan riak. Bersama kemilau jingga memeluk samudra, mentari tersipu menyongsong malam dari balik pulau Angsa Dua. Dalam kepingan senja nan teduh, pada ujung tumpukan batu pemecah ombak yang menjorok ke laut, Meta seorang perempuan muda duduk terpaku menikmati senja, ia melayangkan pandang ke tengah lautan, rambutnya yang panjang bersibak diterpa angin, kedua tangannya menggenggam erat buku harian bewarna merah muda. 
“Aku bukan Puti Gandoriah dan kamu bukan Anggun Nan Tongga, tapi … kenapa harus kita?” ucapnya lirih.
Perlahan Meta membuka buku harian.

Selasa

KEMALA

 
Image: Kumpulan Fiksi WordPress.com
Bocah perempuan berparas ayu dengan pakaian yang sudah kumal melintasi lorong pasar tradisional. Sesekali ia mempercepat langkah, berlari kecil di antara hiruk pikuk pedagang dan orang-orang yang tengah asyik berbelanja. Sudah hampir seminggu, setiap hari bocah berparas ayu itu melintasi lorong pasar, namun tidak ada satu orang pun yang tahu dari mana ia datang, dan ke mana ia hendak pergi. Jika masih sekolah, mungkin bocah itu baru kelas dua sekolah dasar.
“Bocah gelandangan,” celetuk seorang pedagang.
“Anak itu pasti terlahir karena seks bebas,” timpal pedagang lainnya.
“Orang tuanya kelewat kurang ajar, anak masih kecil sudah disuruh mengemis,” sambung pedagang lain.

Sabtu

Korenah V

Image: dreams.co.uk

(Jin Ifrit)

Mak Ratna histeris ketika mengetahui wajan yang sedang ia gunakan untuk menggoreng ikan, hilang begitu saja di atas tungku.

“Aaaaaaaaaaaaach, auw auw, wajanku!”

Mendengar mak Ratna histeris, pakle Veyz yang tengah merenovasi kandang ayam, berlari secepat bayangan menuju dapur.

“Ada opo toh, mbakyu?” tanya pakle Veyz.
“Anu … wajan hilang.”
“Pasti salah nyimpan.”

“Salah nyimpan opo? Orang tadi wajannya lagi mbak pakai menggoreng ikan. Baru saja mbak tinggal nyuci sendok, pas balik, wajannya sudah hilang, dicuri orang kali ya?”

“Wah … ndak yakin aku ada orang mau mencuri wajan burik bopeng.”

Kamis

Bakiak Sakti (Loket 2)

Image Google

Andri pulang ke rumah dengan pakaian seragam sekolah yang masih basah penuh lumpur, sambil menenteng bingkisan dalam kantong kresek bekas pemberian Putri.

Di halaman rumah, mak Ratna kaget melihat anak kesayangannya yang nampak awur-awuran.

“Kalau mau berenang, mbo yo baju seragamnya ganti dulu, Le!” tegur mak Ratna.

“Anu Mak. Aku kejebur,” jawab Andri gelagapan sambil mencium tangan mak Ratna.

“Yo wes, mandi dulu sana!”

Selesai mandi, Andri bergegas meraih kantong kresek bekas yang berisi kado spesial dari Putri. Dengan rasa penasaran tingkat tinggi, perlahan Andri membuka bingkisan. Seketika Andri menyunggingkan senyum bahagia penuh haru, lalu berkata dalam hati.

Senin

Bakiak Sakti (Loket 1)

Image Google

Pulang sekolah, Zulfa Putri Bungsu menunggu Andri di depan pos Satpam dekat pintu gerbang, sambil menenteng kantong kresek bekas yang berisi bingkisan dan sebutir telur ayam negri. Siang itu Putri hendak memberikan kejutan dan kado spesial untuk Andri, sebagai hadiah ulang tahun.

Guna memuluskan rencananya, Putri bekerjasama dengan salah seorang Satpam sekolah. Sesuai skenario yang mereka buat kala itu, Putri membelakangi jalan yang akan dilalui Andri. Ketika Andri sudah berada tepat di belakangnya, Satpam akan memberi kode kepada Putri dengan cara mengangkat tangan kanannya.

Sepuluh menit menunggu penuh harap. Dari kejauhan, Putri melihat Andri keluar dari kelasnya. Semakin langkah Andri mendekat, semakin cepat pula irama dak dik duk ser tang dung dung yang terus bergema di hati Putri. Berharap lelaki yang tak kenal lelah mengejar cintanya itu menyukai kejutan dan hadiah yang akan ia berikan.

Dengan hati yang tak henti berdebar, Putri semakin resah menunggu kode dari pak Satpam. Dak dik duk ser! Tiba-tiba Satpam mengangkat tangan kanannya. Seketika Putri membalikkan badan, lalu menamplokkan telur ke muka orang yang berada di belakangnya.

“Plaaaaaaaaaaak!”

Minggu

The King of Kondor

Image Google

Pagi itu Andri bangun kesiangan. Semalam ia terlambat tidur gara-gara keasyikan menonton dangdutan di lapangan desa. Acara dangdutan yang diadakan untuk memeriahkan ulang tahun karang taruna desa Rawa Jolang itu, baru berakhir pukul tiga dini hari. Andri lupa, padahal minggu pagi itu ia punya janji dengan Adit.

Mereka berdua berencana menangkap kodok puru hutan, di kebun milik pakle Veyznya Andri, yang berada di kaki bukit arah timur desa Rawa Jolang. Sebagai bahan dasar tugas biologi yang harus mereka bawa ke sekolah esok hari.

Saat Adit datang kerumahnya, Andri masih terlihat kusut. Ia lagi asyik menonton program televisi kesukaannya, Masha and the Bear.  “Ndri, kita jadi ke kebun nggak ni?” sapa Adit. Dengan raut wajah memelas, Andri menjawab, “besok-besok aja gimana, Dit? Lagi seru, ni!” Adit terdiam. “Ya sudah, aku pergi sendiri aja. Siap-siap aja besok pagi kamu dihukum lagi oleh pak Jara Kada, karena tidak membawa bahan untuk tugas biologi. Kamu nggak malu, disuruh berjemur lagi di dekat tiang bendera?” Sambung Adit, sambil membalikkan badan, lalu melangkah meninggalkan Andri. Sementara Andri terdiam membayangkan hukuman yang akan ia terima dari pak Jara Kada, jika besok tidak mengumpulkan kodok puru hutan, untuk diteliti di laboratorium sekolah.

Langkah Mungil Sang Pemburu Mimpi

Image: himakom unsoed

Kala awan pagi menyibak langit,
mengusik gemulai tarian embun di ujung daun.
Langkah-langkah waktu perlahan beranjak lupakan mimpi malam.
Kokok ayam bagai lolongan serigala mencambuk asa.  
Engkau beranjak dari tempat tidur lusuh, menuju dapur tanpa kamar mandi.
Secawan air telah cukup bagimu untuk menyeka wajah.

Cahaya keemasan yang terpancar dari sisi bilik rumah panggung,
sebagai penunjuk waktu bagimu untuk segera berkemas,
menjemput cita-cita di balik belantara sunyi.
Seragam lusuh, tas lusuh, buku lusuh, tetapi tidak begitu dengan semangatmu.