Selasa

Create Peace (Damai di Hati)




Mencoba berkata sesuai dengan apa yang diisyaratkan mata kepada hati dari apa yang sudah ia lihat, mencoba berkata sesuai dengan apa yang diisyaratkan telinga kepada batin dari apa yang sudah ia dengar, mencoba berkata sesuai dengan apa yang diisyaratkan fikiran kepada sanubari dari apa yang sudah ia fahami. Selaras dengan deskripsi blog sederhana saya ini “Ceritakan pada semua bahwasanya damai itu Indah” saya ingin sedikit mengungkapkan kata hati saya, sembari berusaha untuk menggugah kembali ingatan kita semua akan pentingnya sebuah kedamaian.

“Damai di Hati”

DAMAI, rasanya menarik untuk menelaah kata yang satu ini, mengingat belakangan banyak terjadi di sekitar kita konflik, pertikaian serta tindak kekerasan fisik juga non fisik, baik yang terjadi di lingkungan keluarga maupun di lingkungan masyarakat. 


Sudahkah kita menanamkan kedamaian di hati, fikiran dan jiwa kita?

Semua orang tentunya setuju dengan kata perdamaian di kala fikirannya diselimuti ketenangan, sadar serta dapat membedakan antara salah dan benar. Namun bila fikiran tersebut dihinggapi amarah, masihkah kita bisa mengontrol diri kita hanya untuk sekedar mengatakan di dalam hati bahwasanya damai itu penting, damai itu indah? 


Faktanya dengan memiliki pemikiran yang damai saja ternyata tidak cukup sempurna, tanpa memperdalam kesadaran akan pentingnya sebuah kedamaian. Untuk itu kita dituntut tidak hanya sekedar bisa mengucapkannya, tetapi kita juga harus mampu merealisasikannya di dalam kehidupan. Karena bukti nyata kesungguhan itu terlihat dari apa yang kita perbuat bukan dari kata-kata.

Beberapa hal yang dapat merusak kedamaian yang ada di fikiran kita, di antaranya adalah: Amarah, rasa kesal, kebencian, ambisi yang tidak terkendali, gejolak emosional tanpa kontrol. Di dalam kehidupan kita sering menemukannya, tetapi pernahkah kita bertanya kepada diri kita, terlalu pentingkah untuk mengekspresikan semua itu? Apa lagi dengan cara yang berlebihan. 

Katakanlah saat atasan marah kepada bawahannya karena melakukan sebuah kesalahan, saat majikan marah kepada pekerjanya karena lalai dalam bekerja, saat orang tua marah kepada anaknya karena nilai ujian anaknya anjlok, saat guru marah kepada muridnya karena tidak mengerjakan tugas dari sekolah, saat seorang teman kesal kepada temannya yang lain karena sikapnya yang dianggap kurang baik. Semua itu merupakan suatu hal yang sangat wajar, akan tetapi bila pengungkapan rasa marah dan kesal tersebut diekspresikan secara berlebihan, dengan kata-kata makian sampai kepada tindak kekerasan fisik, masih pantaskah semua itu disebut wajar? Sementara yang mereka butuhkan itu nasihat dan masukan yang membangun. Saya sangat tidak percaya kalau ada orang yang bisa menyampaikan nasihat di antara kemarahannya. Untuk itu secara pribadi saya sendiri kurang setuju dengan kata marah dalam mengekspresikan semua itu, walau terkadang saya juga pernah berada di dalam gejolak emosionalnya.

Begitu juga dengan lingkungan masyarakat luas, terkadang penyebab dari timbulnya amarah dan kebencian tersebut hanya permasalahan sepele, kesalahpahaman, ketidakmampuan untuk menghargai orang lain, atau karena lemahnya kepribadian kita sehingga mudah dipengaruhi dan diprovokasi oleh orang lain, demi kepentingan pribadi dan golongannya.

Kemarahan tidak pernah timbul tanpa alasan,
tetapi alasannya jarang yang benar[1].

Sifat menusia yang khilaf mengharuskan kita berhati-hati terhadap apa yang akan kita utarakan, terkadang niat yang baik bisa berakhir tidak baik hanya karena cara penyampaian yang tidak tepat. Berhentilah untuk berbicara tentang sesuatu yang tidak berguna, terkadang diam juga lebih baik daripada ngomong tetapi menyakiti perasaan orang lain. Ditambah lagi dengan banyaknya istilah-istilah aneh yang beredar di lingkungan masyarakat kita dengan purpose yang tidak jelas. Bila yang melakukan kesalahan itu seseorang, salahkanlah orangnya, jangan salahkan keluarganya, jangan pula salahkan kaum dan daerah asalnya, karena hal seperti itu bila terjadi tentunya akan mencederai banyak perasaan. Menurut saya segala sesuatu yang berbau sara dan rasis, sampai kapanpun tidak bisa diakui keberadaannya di belahan dunia manapun hadirnya.

Katakan tidak terhadap hal yang barbau sara, rasis, serta penyelesaian masalah dengan cara amarah dan kekerasan, karena semua itu dapat merusak indahnya kebersamaan. Sudah sepatutnya kita sebagai makhluk sosial untuk belajar menjadi pribadi yang memiliki kelembutan hati agar dapat memantulkan kesejatian hidup, yang peka terhadap kebajikan, yang perasa terhadap keluhan, yang tangguh sehingga tidak mudah dipengaruhi oleh orang-orang yang berpemikiran tidak jelas. Buat orang terdekat dan lingkungan sekitar kita menghormati kita karena kebaikan dan kelembutan hati kita. Buat ia merasa segan untuk melakukan kesalahan, dengan itu kita akan dihormati saat ada dan disanjung saat tidak ada. Sebaliknya bila kita cenderung mengedepankan amarah dalam setiap hal untuk menjadikan orang lain takut, orang-orang yang membutuhkan kita hanya akan menghormati saat kita ada, di belakang kita mungkin mereka akan mengatakan suatu pandangan yang negatif terhadap kita.

“Renungan”

Wahai saudaraku, hitam putih itu cuma warna, salah dan benar itu hanya penempatan pilihan, karena semua orang pernah melakukan kesalahan, perbedaan itu bukan ancaman, bila kita bisa menciptakan keindahan dari sebuah perbedaan kenapa harus ada kebencian, kenapa harus ada amarah, kenapa harus ada dendam, kenapa harus ada perang, bukankah dengan perbedaan itu kita bisa melihat cakrawala yang luas, bukankah dengan perbedaan itu kita bisa tahu kekurangan dan kelebihan kita, bukankah dengan perbedaan itu juga maka tercipta keanekaragaman warna kehidupan.

Jika kita semua menyadari, perang bukanlah jalan penyelesaian kenapa tidak berdamai saja. Selagi kita masih memiliki pikiran yang jernih untuk mengambil hikmah dari setiap masalah yang tengah kita hadapi, kenapa tidak ditempuh jalan musyawarah, begitu susahnyakah bagi kita untuk mengucapkan dan menerima kata maaf? Bukankah pemberian maaf itu merupakan kunci dari semua tindakan dan kebebasan. Sementara adanya dendam hanya akan menciptakan dendam baru dan adanya kebencian juga hanya akan menciptakan kebencian baru.

Ambil pelajaran dari semua kesalahan masa lalu, sekarang saatnya untuk kita mengembangkan suatu metode yang menolak segala hal yang berbau sara, rasisme, penyelesaian masalah dengan cara amarah dan kekerasan, pembalasan dendam, penyerangan, dan pembalasan untuk semua konflik. 

Mari kita memulai langkah baru yang lebih baik, karena tidak ada kata terlambat untuk memulai sesuatu yang positif, semaikan kebaikan di hati dan setiap tindakan, sirami dengan niat mulia. Bila kedamaian itu sudah menjadi keinginan kita, wujudkanlah dia menjadi kenyataan yang benar-benar nyata dalam kehidupan dan kunci utamanya adalah rasa cinta terhadap sesama, menjaga setiap lisan dan perbuatan, serta sikap saling menghargai terhadap semua orang yang kita temui tanpa memilih siapa dan apa latar belakangnya. Tanamkan kedamaian di dalam diri seiring nafas kehidupan, mulai dari lingkungan terkecil bersama keluarga dan perluas sampai kedamaian yang sudah kita tanamkan tersebut terus tumbuh memayungi seluruh aspek kehidupan.

Tuhan,
Jadikanlah aku alat perdamaian.
Di mana ada kebencian, biarlah kutabur cinta,
Di mana ada luka, kutebar maaf;
di mana ada kegelapan, kusiram cahaya;
dan di mana ada kesedihan,
kuberikan kegembiraan[2].


Kalau kita membenci seseorang,
kita memberinya kekuatan
untuk menyusahkan kita : kekuatan untuk
mengganggu tidur kita, selera makan kita, tekanan
darah kita, kesehatan kita, dan kebahagiaan kita.
Musuh-musuh kita akan menari-nari
dengan gembira kalau mereka tahu mereka
berhasil merisaukan dan mencabik-cabik kita.
Kebencian kita tidak menyakiti mereka sama sekali,
tetapi cuma menyiksa kita siang dan malam[3].


Orang terhebat dalam segala usia
telah menjadi pecinta sesamanya.
Semua pemimpin sejati memilikinya.
Rasa percaya dan hormat kepada
sesama manusia adalah tanda-
tanda kebesaran sejati[4].


Kadang saya sempat berpikir
 kala melihat senar gitar butut milik saya.
Ia memiliki enam senar dengan ukuran yang berbeda,
tetapi saat nadanya diselaraskan
mereka begitu kompak berdendang untuk lagu yang sama[5].


Inilah suara hati saya di antara kekhawatiran yang sesungguhnya saya tidak mengharapkan segala bentuk keresahan ini, tetapi saya sadar hidup adalah anugerah dan saya tidak pernah sekalipun berkeinginan menjadi orang yang paling munafik, karena saya sendiri tidak suka dengan kemunafikan dan saya akan selalu berusaha untuk jujur, seperti layaknya yang saya rasakan saat ini. Mungkin saja saya bisa membohongi semua penduduk bumi, tapi satu hal, saya tidak mungkin bisa membohongi hati saya sendiri. Bahkan seorang penipu ulungpun tidak akan sanggup untuk menipu hatinya sendiri. Maka dari itu katakanlah, bahwasanya kita semua mencintai kedamaian, katakanlah bahwa sesungguhnya damai itu indah.

Semoga goresan sederhana ini bisa menjadi renungan bagi kita semua, tentang betapa sangat indahnya hidup saling berdampingan sebagai saudara.


Hidup tenang tanpa dendam dan kebencian

Singkirkan bara amarah
Satukan hati dan rasa

Padamkan api dendam
Ciptakan kedamaian
Ceritakan pada semua
Ternyata damai itu indah


Create PEACE...!!!



[1] George Saville
[2] St Francis dari Assisi
[3] Anonim dari ”Courage and Confidence”
[4] Emerson
[5] Mr TM

16 komentar:

  1. YEEEEEEEEEEEY Cinta Damai, Damai Itu Indah..
    kata-kata sederhana tapi sungguh penuh energy positifnya ya TM..

    BalasHapus
  2. Iya Kak Nadia.

    Kadang TM berfikir, khusus bwt saudara2 kita yg temperamental n gampang emosi, kira2 mereka bs ga ya k-lo di bikinin schedule khusus untuk marah. Misalkan seminggu sekali, setiap hari rabu jam 7 pagi sampai jam 8(Joke)... jihehehee....


    Thankz kak Nadia....Ceritakan jg pada semua, ternyata Damai itu INDAH...!!!

    BalasHapus
  3. Kalau kita membenci seseorang,
    kita memberinya kekuatan
    untuk menyusahkan kita : kekuatan untuk
    mengganggu tidur kita, selera makan kita, tekanan
    darah kita, kesehatan kita, dan kebahagiaan kita.

    Kalimat ini ngena banget. MJ pernah baca cerita , kalau kita menyimpan benci, itu sama halnya dengan kita membawa sekantong kentang, yang awalnya memang ga masalah,, tapi lama-kelamaan kentang-kentang itu pasti akan membusuk, dan akan semakin membusuk. pada akhirnya hanya akan mencemari dan membusuki diri kita sendiri yang membawanya.

    Nice Post TM!
    Always ceritakan pada semua, bahwa damai itu indah.. :)

    BalasHapus
  4. @MJ. Setuju banget TM, membenci itu merupakan pembalasan orang pengecut yg diintimidasi...


    Thankz Mba MJ...!!!

    BalasHapus
  5. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  6. Sebuah pendapat fantastic “ CERITAKAN PADA SEMUA DAMAI ITU INDAH”

    Dunia kini menghadapi masalah-masalah yang kompleks.Hanya kepedihan, penderitaan dan kemiskinan yang dihasilkan! kita harus membenahi arti sebuah perdamaian yang tidak harus dijaga dengan kekuatan dan senjata, namun dengan sebuah pengertian dan sebuah keikhlasan untuk saling memaafkan dan menghargai sesama..

    Perdamaian tidak dapat dijaga dengan kekuatan tapi dapat diraih dengan pengertian.

    Waaaaw…… post yang Keren Ajo… hehehehe :)

    BalasHapus
  7. @ Yantee. Impressive, setuju banget dech, k-lo ternyata masih banyak jln lain yg bs d tempuh selain perang untuk menyelasaikan masalah, bwt ap jg harus berperang, yg kita tw baranya hanya akan menghanguskan segalanya...


    Thankz Yantee....Ceritakan jg pada semua, ternyata Damai itu INDAH...!!!

    BalasHapus
  8. salam damai kalau begitu sobat dan terimakasih sudah mau berkunjung dan komentar juga.....

    salam damai ^_^

    BalasHapus
  9. Sekali masuk jadi kaget,,,dengan suguhan besarnya bola dunia yang pertama kali menyambutku,,,,hehheee

    Salam kenal balik dari Mimi untuk Tuan Muda...

    BalasHapus
  10. @Pak Arya, salam damai balik Pak,kembali kasih.

    Saya bnr2 merasa tidak kreatif ne Pak,tp hati saya menuntut saya harus mengucapkan kata yg sama sperti yg sdh Pak Arya ucapkan "Terima kasih jg Pak Arya telah berkunjung ke gubuk sederhana saya ini".... heehee...Peace....!!!


    @Mimi, Jiheeheee kak Mimi bs ajja ne...jihehehee.... Iya Kak, slm knl balik dr TM...

    Thankz kak Mimi udah berkunjung...!!!

    BalasHapus
  11. Anonim21:44

    Dengan damai kita bisa beraktifitas dengan nyaman tanpa di hantui rasa was was, Mungkin generasi muda sekarang harus bisa mengedepan kan rasa damai menjadi prioritas utama,

    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

    BalasHapus
  12. salam damai:)
    kalau damai itu indah, kenapa harus ada permusuhan kan?
    :D

    BalasHapus
  13. @Pak Sgharjono. Sebagai generasi muda saya setuju sekali dgn pendapat Bapak,tentunya sangat baik menanamkannya semenjak usia dini,ketimbang membentuknya setelah dewasa.

    Terima kasih Pak Sgharjono telah berkunjung, salam hangat kembali Bapak.

    BalasHapus
  14. @Nova... Benar banget kak Nova, ternyata damai ithu bnr2 INDAH.

    Salam damai kembali n slm knl jg ya kak Nova...!!!

    BalasHapus
  15. meninggalkan jejak disini, peace always xD

    BalasHapus