Tampilkan postingan dengan label Demokrasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Demokrasi. Tampilkan semua postingan

Kamis

Secarik Kertas Tanpa Makna



Di lorong gang pemukiman padat penduduk, seorang Lelaki berpakaian necis berjalan sambil menggenggam secarik kertas di tangan kirinya. Detak langkahnya menghunus debu bekas galian, menghinggapi sepatu pantofel hitam yang membungkus kakinya.  Di tengah perjalanan, Ia melihat tiga orang bocah usia belasan sedang asyik bermain bola plastik. Sejenak Lelaki necis menghentikan langkahnya, lalu menghampiri salah seorang bocah.

“Dik, namanya siapa?” Tanya Lelaki necis.


“Bocah: Andi, Om!


Lelaki necis: Andi sekarang kelas berapa?


Bocah: Sudah enggak sekolah, Om.


Lelaki necis: Kenapa tidak sekolah?


Bocah: Tiga bulan yang lalu Ayah sakit keras dan sampai sekarang belum sembuh. Ayah adalah tulang punggung keluarga kami. Ibu yang biasanya bertugas mengurus rumah tangga, memasak, beres-beres rumah, merawatku dan dua adikku, sekarang harus bekerja menggantikan Ayah. Ibuku sekarang berjualan makanan kecil, hasilnya hanya cukup untuk biaya makan kami sehari-hari, sisanya untuk biaya berobat Ayah.”


Lelaki necis terdiam, matanya berkaca, sambil membuka secarik kertas dari tangan kirinya, ia menuliskan sesuatu.

Lupa Bikin Judul


Semoga belum lupa. Ketika semua lembaga survei kredibel mengatakan Jerman menang tipis atas Argentina, sementara ada beberapa lembaga survei abal-abal yang ngotot mengatakan Argentina sebagai pemenangnya.
 
Ada suatu masa yang mana pesta demokrasi diwarnai dengan perseteruan sengit seolah kita tak berdiri di antara tiang bendera yang sama. Saling serang, saling sikut, saling hantam, perang opini, sampai perang fitnah. Memang tidak melibatkan fisik, tetapi proses itu telah cukup membuat urat saraf lelah, bahkan nyaris putus. Nusantara seperti terbelah, seolah kita tidak lahir dari rahim yang sama (Ibu Pertiwi), seolah kita bukan putra putri terbaik bangsa yang terdidik dengan budaya timur yang menjunjung tinggi norma dan nilai-nilai (kesopanan).

Pantaskah kita merindukan suasana seperti kala itu atau malah merasa jijik ketika harus mengenangnya?
Lantas, apa yang salah dengan demokrasi kita?

Rabu

Ubah



Apa yang mesti kita lakukan, saat orang-orang yang mewakili kita tidak lagi memihak kepada kita? Apa yang mesti kita lakukan, saat orang-orang yang katanya ada untuk kita, tetapi mengabaikan aspirasi kita? Apa yang mesti kita lakukan, saat orang-orang yang katanya peduli terhadap kita, tetapi lebih mengedepankan kepentingannya yang tidak terlalu penting? Apa yang mesti kita lakukan, saat orang-orang  yang katanya mengabdi untuk kita, tetapi meludahi mungka kita?

Saya yakin, sobat mungkin sudah mendengar berita tentang rencana pembangunan gedung baru yang katanya super mewah, untuk bakal tempat para anggota dewan yang terhormat bekerja sehari-hari demi rakyat. Yang mana anggarannya diperkirakan mencapai Rp1,1,38 triliun. Setara dengan pembangunan 32.000 gedung sekolah baru. Bila anggaran tersebut dialokasikan untuk pengadaan lahan sawah, bisa untuk menciptakan 20.000 hektar lahan atau membangun 11.600 rumah sederhana untuk masyarakat.

Jumat

Sudden Discussion


Bukan orang lain, hanya kita yang mampu merubah diri kita, masa depan kita di tangan kita dan masa depan dunia pun ada di tangan kita. So, keep living life with passion and conviction!

Saya menulis tulisan di atas pada sebuah wall grup komunitas. Tujuan awal saya hanya sekedar berbagi kata-kata motivasi kepada pengunjung lainnya. Dikarenakan ada salah seorang pengunjung yang merespon tulisan tersebut, maka terjadilah diskusi singkat, padahal saya menulisnya bukan pada space forum diskusi. Imbasnya pengunjung lain tidak mau terlibat langsung, kecuali hanya sebagai penonton yang bersorak-sorak di kursi beranda. 

Senin

Yang Muda Yang Bicara (Yang Muda Tidak Lagi Dipandang Sebelah Mata)




Membaca judul di atas, para sobat mungkin akan berkata walau hanya di dalam hati, “(Asal deh si TM! mana ada istilah yang muda tidak lagi dipandang sebelah mata, yang ada itu: Yang muda dipandang sebelah mata” ya kan.? jangan bohong deh, bohong dosa loh, hehehe maksa). Benar, saya juga setuju bahwa kenyataannya istilah yang beredar di lingkungan masyarakat kita itu ”Yang muda dipandang sebelah mata” dan saya mengatakan semua itu benar bukan hanya karena semata-mata saya pernah mendengarkannya, tetapi saya juga pernah merasakan panasnya hawa tubuh saat berada di dalam lingkarannya, apakah sobat pernah mengalaminya?