Untuk yang selalu bicara dari rakyat juga untuk rakyat, tapi rakyat dimakan habis. Untuk semua yang memuja kemunafikkan. Untuk semua kepalsuan. Untuk semua kecurangan yang didustai. Untuk semua kebobrokkan yang bersembunyi di balik jubah kebesaran. Enyahlah semua kemunafikkan!
Hypocrite
Hey kamu yang di sana
Dengarin gue bicara
Pasang lebar kuping telinga
Dengarkan dengan saksama
Lo baik, lo sialan
Lo terhormat, lo biadab
Lo ramah, lo serakah
Lo berkuasa, lo penjajah
Lo ooo, haram jadah
~~~~~ \m/ ~~~~~
Nb: Mohon maaf sobat, liriknya agak sedikit keras, tapi itulah gaya saya dalam berkarya, apa adanya tanpa kemunafikkan. \m/
Indah rasanya saat mengenang detik di masa lalu yang pernah kita lewati. Pahit manisnya memberikan suguhan warna tersendiri terhadap imajinasi kita di masa sekarang. Apalagi dilengkapi dengan temuan saksi bisu, benda ataupun tulisan yang memperkuat keyakinan kita tentang cerita kehidupan yang pernah kita lalui tersebut.
Sebulan yang lalu saya iseng buka arsip jadul, saya menemukan buku lama yang sudah bertahun-tahun saya simpan. Di antara buku tersebut ada salah satu buku yang menarik hati saya untuk segera membukanya, yaitu buku catatan saat saya masih belajar tentang musik atau tepatnya waktu saya masih terdaftar sebagai peserta kursus di salah satu sekolah musik pada tahun 2000. Dari dulu, setiap menulis di buku atau note pribadi, saya selalu mencantumkan tanggal dan tahun, dari buku tersebut saya menemukan not-not yang saya tulis saat masih belajar bikin lagu.
Selayaknya kehidupan, dihiasi berjuta warna keindahan juga kegetiran dengan segala harmoni yang terdapat di dalamnya. Susah senang, pahit manis, hitam putih, apapun jalannya harus dilalui dengan indah meski terkadang langkah itu sulit. Kesibukan bekerja untuk menunjang keberlangsungan hidup, perjuangan bercucurkan keringat, pengorbanan waktu, tenaga dan fikiran, tidak jarang membuat kita merasakan betapa sangat beratnya langkah yang harus dilalui menuju ujung kehidupan yang tidak kita ketahui batasnya.
“Ini hanya artikel sederhana, dikemas dan ditulis dengan sederhana oleh makhluk Tuhan yang sederhana.
Ada yang bilang musik itu bisa menyentuh jiwa dan saya sangat setuju itu, bagi saya musik tidak hanya sekedar bisa menyentuh jiwa, tetapi juga memiliki ruangan history dalam perjalanan hidup saya. disaat kapanpun saya mendengarkannya, bisa menggugah ingatan saya akan suatu kisah atau cerita kehidupan yang pernah saya alami.
Mungkin akan terasa hampa ruangan kerja dan kamar kos saya tanpa alunan nada-nada musik yang saya suka. Walaupun saya bukan seorang musisi, tetapi saya telah menempatkanmusik, memainkan atau sekedar mendengarkannya sebagai salah satu hobi.