Di lorong gang pemukiman padat penduduk, seorang Lelaki
berpakaian necis berjalan sambil menggenggam secarik kertas di tangan kirinya. Detak
langkahnya menghunus debu bekas galian, menghinggapi sepatu pantofel hitam yang membungkus kakinya. Di tengah perjalanan, Ia melihat
tiga orang bocah usia belasan sedang asyik bermain bola plastik. Sejenak Lelaki
necis menghentikan langkahnya, lalu menghampiri salah seorang bocah.
“Dik, namanya siapa?” Tanya Lelaki necis.
“Bocah: Andi, Om!
Lelaki necis: Andi sekarang kelas berapa?
Bocah: Sudah enggak sekolah, Om.
Lelaki necis: Kenapa tidak sekolah?
Bocah: Tiga bulan yang lalu Ayah sakit keras dan sampai sekarang belum sembuh.
Ayah adalah tulang punggung keluarga kami. Ibu yang biasanya bertugas mengurus
rumah tangga, memasak, beres-beres rumah, merawatku dan dua adikku, sekarang
harus bekerja menggantikan Ayah. Ibuku sekarang berjualan makanan kecil,
hasilnya hanya cukup untuk biaya makan kami sehari-hari, sisanya untuk biaya
berobat Ayah.”
Lelaki necis terdiam,
matanya berkaca, sambil membuka secarik kertas dari tangan kirinya, ia
menuliskan sesuatu.


