Rabu

Versus Preman



Premanisme (berasal dari kata bahasa Belanda vrijman = orang bebas, merdeka dan isme = aliran) adalah sebutan pejoratif yang sering digunakan untuk merujuk kepada kegiatan sekelompok orang yang mendapatkan penghasilannya terutama dari pemerasan dari kelompok masyarakat lain.[1]

Preman, kata yang satu ini memang sudah begitu sangat akrab di telinga kita. Seperti apa mereka, bagaimana sepak terjang mereka dalam beraksi, saya yakin sobat semua sudah mengetahui itu. Namun tulisan saya kali ini tidak untuk mendefinisikan kata preman, melainkan saya ingin berbagi sedikit pengalaman saya ketika berhadapan dengan preman.

Minggu

Media Sosial



Memiliki akun media sosial, belakangan ini telah menjadi kebutuhan wajib bagi sebagian besar orang. Ada yang memanfaatkannya untuk tujuan yang berguna, tidak sedikit pula diantaranya yang hanya ikut-ikutan trend. Baik itu yang memiliki akun facebook, twitter, G+ dan di media sosial lain.  

Tapi, pernahkah kamu bertanya, apa sebenarnya tujuan kamu memiliki akun dan aktif di media sosial?  

Apa tujuanmu menggunakan media sosial?

· Bersosialisasi.
· Mendapatkan banyak teman.
· Mencari pacar.
· Ikut-ikutan trend.
· Berbisnis.

Apa tujuanmu menulis di media sosial?

· Untuk berbagi.
· Untuk berdoa.
· Untuk berkeluh kesah.
· Untuk ber-alay ria.
· Untuk promosi usaha.

Rabu

Menembus Batas



Saya banyak menemukan komunitas anti A, komunitas anti B dan komunitas sejenis lainnya. Tetapi saya tidak paham apa tujuan mereka untuk menciptakan komunitas tersebut, bilamana sebagian besar opini anggotanya yang saya temukan dan yang saya lihat hanya berupa caci maki dan sumpah serapah tanpa ada diskusi yang sehat, pencerahan ataupun upaya mencari titik temu untuk membenahi, meluruskan atau menyelesaikan hal-hal yang membuat mereka antipati dan membenci.

Benar adanya, setiap orang bebas mengekspresikan dirinya menjadi apa dan seperti apa yang mereka mau. Selagi tidak melanggar norma, nilai-nilai serta aturan yang berlaku, tentu semua akan dianggap wajar dan sah-sah saja. Akan tetapi, bila hal yang kita lakukan tersebut hanya merupakan suatu yang sia-sia, tidak mengubah apa-apa, tidak memiliki daya guna apa-apa, masihkah semua itu disebut upaya perjuangan? Bahkan sebuah niat baik sekalipun bila dilakukan dengan cara yang tidak baik, bisa dipastikan akan berakhir dengan tidak baik pula.