Rabu

Asked Why II (Politic)


“Tidak ada kata terlambat, asal masih bernafas”

Lebih dari dua tahun yang lalu, saya menulis tulisan berjudul “Asked Why” yang isinya memuat pertanyaan-pertanyaan dan jawaban kritis tentang segala hal di kehidupan (sosial, politik, hukum, gaya hidup, dsb). Kali ini saya tertarik untuk menulis edisi selanjutnya. Jika “Asked Why” sebelumnya pokok bahasannya mengenai segala warna warni kehidupan. Berhubung sekarang tahun politik, saya tertarik mengangkat tema tentang politik.

Untuk sobat yang belum membaca “Asked Why” edisi sebelumnya, sila lihat di sini --> cikidot


Bahas politik itu santai saja brew!
Jangan terlalu serius,
kalau nggak mau terkena penyakit kuning!

\m/


Berdoa di Media Sosial


Ketika seorang teman bertanya kepada saya, apakah pantas berdoa di media sosial? 
Jawaban saya: TIDAK!

Sharing atau berbagi lafaz doa di media sosial itu bagus!
Tetapi kalau berdoa di media sosial?
Maaf, itu sama saja berperilaku tidak sopan ketika bertutur kepada Tuhan.

Mengutip analogi dari sahabat saya, pak +Jara Kada:
Ketika ada seseorang yang meminta bantuan kepada Anda, tapi mukanya menghadap kepada orang lain.

Apakah Anda akan menolong orang tersebut dengan ikhlas?
Apakah menurut Anda orang tersebut sudah bersikap sopan?

Kamis

Sudut Pandang


Banyak masyarakat kita terlalu fanatik dengan sistem dan pandangan baku yang pernah diajarkan kepadanya, sehingga membuatnya buta gaya atau mati langkah untuk mencoba menelaah sesuatu dari sudut pandang berbeda.

Saya seringkali memiliki cara pandang berbeda dari kebanyakan rekan-rekan saya mengenai berbagai hal dalam hidup ini. Apakah itu membuat saya dianggap aneh, gila, tak wajar dan lain sebagainya? Entahlah, Anda yang memiliki hak untuk menilai itu.

Ketika orang mengatakan rakyat dipimpin oleh Presiden atau Raja. Dalam pandangan saya, Presiden dan Raja lah yang seharusnya dipimpin oleh Rakyatnya. Ketika orang berkata murid diajari oleh gurunya. Dalam pandangan saya, guru dan murid semestinya sama-sama saling belajar dan mengajari.